Paradoks AI: Antara Amplifikasi dan Degradasi

Kepada pembaca di masa depan,

Satu bulan ini, perkembangan riset teknologi AI sudah membuat gempar jagat maya sebanyak dua kali. Di awal bulan, publikasi riset dari Apple menunjukkan bahwa selama ini AI tidak memiliki kemampuan reasoning selayaknya manusia. Di akhir bulan ini, Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebagai kampus teknologi terdepan di masa kami saat ini telah mengumumkan hasil riset terbarunya yaitu “Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task” yang justru menyoroti pengaruh AI terhadap kemampuan berpikir dari manusia itu sendiri. Sebuah paradoks yang mampu menguatkan dan melemahkan otak manusia.

Kecanduan AI

Perkembangan AI di masa kami telah mematahkan satu kepercayaan dari masa lalu tentang kapabilitasnya. AI yang awalnya dipercaya hanya dapat melakukan pekerjaan berbasis angka dan aturan sederhana, kini di tahun 2025 AI sudah bisa menciptakan video bersuara berdasarkan deskripsi teks dari penggunanya.

Bahkan di awal 2022 saat mulai naiknya popularitas Generative AI, banyak oportunis yang memanfaatkannya untuk menciptakan berbagai macam hal mulai dari konten tulisan, gambar, video (waktu itu kualitasnya masih sangat buruk dibandingkan sekarang), hingga aplikasi yang pembuatannya hanya memanfaatkan prompt saja. Kemudahan akses dari AI ini memberikan gratifikasi instan bagi penggunanya sehingga menimbulkan fenomena kecanduan AI. Dampaknya? Tentu, kemampuan berpikir dari penggunanya menjadi lemah dan MIT sudah membuktikannya secara empiris pada riset terbarunya.

Degradasi Berpikir

Dalam risetnya, MIT menguji kemampuan berpikir beberapa kelompok orang dalam menyelesaikan tugas menulis esai. Ada 3 kriteria kelompok yang mereka uji yaitu kelompok yang menulis tanpa bantuan apapun (brain-only), kelompok yang menulis dengan bantuan mesin pencari seperti Google, dan kelompok yang menulis dengan bantuan AI (LLM). Pengujian mereka berjalan 4 sesi.

Tiga sesi pertama, MIT menguji kelompok-kelompok tersebut dengan kriteria yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa grup brain-only aktivitas otak yang kuat dan grup LLM memiliki aktivitas otak yang lemah. Sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan. Gratifikasi instan membuat orang menjadi kurang berusaha dan berpikir. Akibatnya berjangka panjang dan itu terbukti pada sesi keempat pengujian.

Amplifikasi Daya Pikir

Pada sesi ke-4 pengujian, MIT menambahkan twist dalam risetnya. Mereka meminta kelompok brain-only untuk membuat esai dengan bantuan AI dan kelompok LLM tidak menggunakan bantuan AI lagi untuk membuat esai. Keadaannya terbalik, tetapi hasilnya tidak ikut terbalik. Kelompok brain-only menunjukkan penguatan aktivitas berpikir sementara aktivitas otak dari kelompok LLM menjadi semakin lemah.

Bagi saya hasil dari sesi ke-4 adalah inti dari riset ini. Sesi ini mengungkap sebuah paradoks dari AI: bagaimana AI dapat sekaligus mengamplifikasi dan melemahkan daya pikir manusia. Namun sayangnya banyak diskusi, baik di media sosial maupun portal berita, hanya menggarisbawahi hasil dari ketiga sesi di awal alih-alih memperkaya pembahasan dari sesi ke-4. Itu karena di era kami, sentimen AI cenderung negatif. Jika saja pembahasannya lebih menekankan bahwa AI dapat menjadi amplifikasi daya pikir manusia, saya rasa penggunaan AI akan menjadi lebih positif.

Prinsip “Human-First”

Menurut saya, riset ini semakin menjelaskan bahwa salah satu jawaban atas dilema eksistensi AI adalah prinsip “human-first”. Posisi AI tidak lebih dari sebuah alat yang dapat menjadi amplifikasi bagi manusia. Manusia lah yang berkarya, manusia lah yang bekerja, dan manusia lah yang menghasilkan.

Namun paradoks ini membuat saya juga bertanya-tanya, apakah prinsip ini tak lekang oleh waktu? Melihat perkembangan AI yang begitu disruptif, eksponensial, dan ambisius, bukan tidak mungkin untuk AI menjadi lebih dari manusia. Apalagi di era sekarang, banyak tech founder yang berambisi untuk menjadi yang pertama menciptakan mahakarya AI-nya. Apakah AI yang menyamai atau melebihi kemampuan berpikir manusia akan muncul suatu hari nanti? Mungkin ini hanya terjawab di era anda, pembaca di masa depan.

Salam dari Masa Lalu,

Ilham 25 Juni 2025


Last modified on 2025-06-25