Kepada pembaca di masa depan,
Bulan ini Apple, salah satu perusahaan teknologi seluler terkemuka di abad ini, berhasil menggemparkan perbincangan AI dengan riset terbarunya. Judulnya “The Illusion of Thinking: Understanding the Strengths and Limitations of Reasoning Models via the Lens of Problem Complexity”. Singkatnya, riset tersebut menyimpulkan bahwa selama ini AI tidak benar-benar “berpikir” untuk memecahkan masalah.
Hype dari “Reasoning Model”
Sebagai konteks awal, OpenAI, salah satu perusahaan AI terkemuka di masa ini, telah memperkenalkan model GPT-4o dan o1 di tahun 2024. Model ini merupakan milestone besar bagi perkembangan AI karena dalam pemasarannya, OpenAI menyebutkan bahwa kedua model tersebut memiliki kemampuan untuk “berpikir” (reasoning) kompleks secara efektif dan efisien dalam proses pemecahan masalah. Semenjak itu, ramailah penggunaan terminologi “reasoning model” di khalayak umum sebagai label untuk AI yang lebih canggih dari versi sebelumnya dalam proses “berpikir”.
Bagi Sam Altman (CEO OpenAI) dalam tulisannya di awal tahun 2025 yang berjudul “Reflections”, reasoning model adalah satu fase yang berhasil ia dan OpenAI lalui untuk menuju era Artificial General Intelligence. Di masa kini, kami mengenal Artificial General Intelligence atau AGI sebagai fase akhir dari bentuk AI. Ketika AI menjadi AGI, itu artinya manusia berhasil menciptakan sesuatu yang segelintir orang menyebutnya sebagai “humanity’s final invention” (temuan terakhir manusia) yaitu mesin yang berpikir selayaknya manusia.
Menariknya dalam tulisan Sam Altman, ia menyebutkan secara implisit akan ada AGI di tahun 2025. Di sini saya sengaja menambahkan kata implisit karena khawatir akan ada yang menyangkal bahwasanya dia tidak menyebutkannya dalam tulisan tersebut. Namun bisa anda lihat pada kutipan paragraf berikut.
We are now confident we know how to build AGI as we have traditionally understood it. We believe that, in 2025, we may see the first AI agents “join the workforce” and materially change the output of companies. We continue to believe that iteratively putting great tools in the hands of people leads to great, broadly-distributed outcomes.
Sebuah visi yang cukup meresahkan. Namun mungkin bukan AGI secara utuh, tetapi iterasi pertama yang ia percayai akan memasuki industri tidak sebagai peralatan atau asisten bagi karyawan, melainkan AI yang menjadi karyawan itu sendiri!
Sungguh, buat saya ini bagaikan berada dalam novel atau film science fiction. Membayangkannya membuat saya merinding. Saya memandangnya optimis, tetapi tidak memungkiri bahwasanya AI yang menyerupai manusia adalah ancaman bagi keberadaan manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, riset dari Apple seakan-akan menyangkal pandangan Sam Altman dan meredam bayangan kengerian saya terhadap masa depan AI yang mungkin akan melampaui manusia.
Akal Imitasi
Apakah anda masih mengingat istilah “Akal Imitasi” yang saya gunakan sebelumnya? Siapapun yang membuat istilah tersebut, itu adalah istilah yang jenius. Itu karena Apple secara tidak langsung dalam risetnya mengonfirmasi bahwasanya AI masih jauh dari AGI.
Sederhananya, riset tersebut menguji kemampuan reasoning model yang katanya mampu “berpikir”, tetapi belum ada bukti empirisnya. Mereka menggunakan instrumen di luar data pelatihan reasoning model tersebut sebagai alat pengujiannya untuk mengetahui kemampuan AI dalam berpikir sesungguhnya.
Berdasarkan kesimpulan risetnya, AI masih belum dapat berpikit abstrak selayaknya manusia. AI masih mengandalkan pola dan memori untuk menjalankan fungsinya. Dengan kata lain kapasitas AI untuk saat ini masih sebatas “imitasi” dari sebagian kemampuan reasoning yang manusia miliki.
AI Masa Kini
Tentu ini menjadi perdebatan besar dalam komunitas AI. Banyak yang skeptis, tetapi tidak sedikit juga yang optimis dan percaya pada proses iterasi AI. Namun bagi saya tetap AI di masa kini adalah kemajuan teknologi yang dapat membawa perubahan besar bagi manusia.
Meskipun kemampuan “berpikir” yang terbatas dan Apple menyebutnya sebagai ilusi, tetap saja AI unggul dalam updateability (kemampuan memperbarui informasi secara cepat) dan connectivity (kemampuan menghubungkan banyak hal secara cepat) seperti yang Yuval Noah Harari sebutkan dalam bukunya, “21 Lessons for the 21st Century”. Di sisi lain, benar atau salah, reasoning model adalah gimmick pemasaran yang cukup reasonable untuk meningkatkan hype serta optimisme kemajuan teknologi AI.
Jika keadaannya seperti ini, spekulasi saya adalah AGI tidak akan pernah ada jika tak ada yang menemukan cara berpikir abstrak dari manusia. Mungkin di masa anda, pembaca di masa depan, hal ini sudah terpatahkan.
Salam dari Masa Lalu,
Ilham 09 Juni 2025
Last modified on 2025-06-09